Kamis, 20 November 2008

Apakah kita bisa jadi iblis? (re-write from my friendster;s blog)

Tadi siang, pas jumat’an, sambil ngantuk2, ngedenger khotbah tentang iblis yg tdk mau sujud kepada Adam.

Aku jadi ingat, saat di Sukanagara, Kab. Cianjur, tahun 2003, baca kisah - yang tidak dpt dipertanggungjawabkan - yang ‘hampir’ sama. kisahnya kurang lebih:

…. kemudian Allah memerintahkan semua makhluk untuk bersujud kepada Adam. Semuanya bersujud, kecuali iblis (QS 7:11). Allah bertanya, apa yang menghalangi iblis laknatullah ini untuk bersujud pada Adam (QS 7:12) (QS 15:32).

Si iblis keparat ini menjawab, dia tidak mau bersujud kepada selain Allah. Hanya Allah lah tuhanku, tiada ilah melainkan Allah. Hanya kepada Allah dia menyembah, beribadah, dan memohon pertolongan.

Allah Maha Pengampun, tapi tidak untuk hal syirik. Dan tidaklah sekali-kali iblis melakukannya saat itu.

Allah murka, dan menghukum iblis ke neraka jahanam yang kekal…

cerita ini fiktif. Janganlah diceritakan kepada anak2 kita (HR Sahabat Lama Nabi)(yg ini juga kurang ajar)

tapi, coba kita renungkan saudara2.. Dengan alasan spt itu, betapa mulianya iblis, memperjuangkan keyakinannya untuk tetap menyembah Allah Yang Esa. Iblis tidak mau syirik.

Ada hadits (gak tau shahih apa dhaif - jangan2 gak ada hadits kayak gini): "Jika manusia diperbolehkan menyembah selain Allah, maka aku perintahkan kepada setiap istri untuk menyembah suaminya…"

So, betapa hal seperti itu (menyembah/bersujud kepada selain Allah) merupakan hal yang sangat-sangat krusial & harus disikapi dgn ekstra hati2.

Apalagi sekarang ini, tidak sedikit orang yang mungkin tidak sengaja, melakukan hal2 yang nyerempet2 dgn syirik itu.

tapi konsekuensinya? siapa yang mau dgn konsekuensinya?

Iblis tidak bodoh, tidak seperti kita (atau sebagian dari kita), yang kalo ada sesuatu konsekuensi yang sedikit merugikan bagi kita, maka akan kita hindari dgn bersikap (melakukan pengorbanan) yang lain - dalam cerita tadi mungkin bersujud, dalam kehidupan kita mungkin berpolitik.

Tapi iblis si keparat ini mau menanggung semua konsekuensi dan kerugian yang sangat-sangat besar: Hidup di tempat yang paling hina, menakutkan, dgn siksaan yg kekal?

Menjadi musuh semesta alam.

Hanya untuk maksud: menegakkan lafadz Laa ilaha ilallah..

So, Apakah kita bisa jadi iblis?

Tidak ada komentar: