Sabtu, 28 November 2009

Suara Keledai = SUARA KITA?

"Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai" (QS. 31:19)

Ketika Allah menciptakan seluruh makhluk dan ruh ditiupkan ke dalam diri mereka, semuanya hidup. Kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah memuji Allah Swt, bertasbih kepadaNya. Tapi ketika semua bertasbih, keledai tidak bertasbih. Dia diam saja. Suatu saat ketika seluruh binatang diam, keledai itu berteriak. Mengapa keledai itu? Ternyata keledai itu berteriak karena lapar. Jalaludin Rumi berkata, suara yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang hanya bersuara ketika perutnya lapar, atau hanya bersuara ketika membela kepentingan dirinya.

Saat ini, mungkin suara itu cukup sering kita dengar. Suara buruh yang melulu meminta kenaikan UMR; suara politisi yang hanya membela kepentingan partainya; suara pengacara bohong yang dengan lantang meyakinkan hakim bahwa kliennya tidak bersalah; suara pejabat yang sumringah gajinya dinaikan; suara caleg yang mengumbar janji-janji..

Sementara itu, ketika ada panggilan tuhan untuk shalat, gak pernah menjawabnya. Ketika ada bencana lumpur Lapindo melanda yang begitu besar dampaknya bagi masyarakat luas, gak ada demonstrasi besar yang mendukung nasib mereka.
Apakah suara itu (suara keledai), adalah suara kita?

(tulisan ini disadur dari salahsatu buku Jalaluddin Rakhmat)